Ayat dan Terjemah
QS. Al-Qalam [68] : 16 – 42
سَنَسِمُهٗ عَلَى الْخُرْطُوْمِ
16. Kelak dia akan Kami beri tanda pada belalai (hidung)-nya. (846)
===846. Yang dimaksud dengan “belalai” di sini ialah hidung. Dipakai kata belalai di sini sebagai penghinaan.
اِنَّا بَلَوْنٰهُمْ كَمَا بَلَوْنَآ اَصْحٰبَ الْجَنَّةِۚ اِذْ اَقْسَمُوْا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِيْنَۙ
17. Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (orang musyrik Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun ketika mereka bersumpah bahwa mereka pasti akan memetik (hasil)-nya pada pagi hari,
وَلَا يَسْتَثْنُوْنَ
18. tetapi mereka tidak mengecualikan (dengan mengucapkan, “Insyaallah”).
فَطَافَ عَلَيْهَا طَاۤىِٕفٌ مِّنْ رَّبِّكَ وَهُمْ نَاۤىِٕمُوْنَ
19. Lalu, kebun itu ditimpa bencana (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur.
فَاَصْبَحَتْ كَالصَّرِيْمِۙ
20. Maka, jadilah kebun itu hitam (karena terbakar) seperti malam yang gelap gulita. (847)
===847. Maka terbakarlah kebun itu dan tinggallah arang-arangnya yang hitam seperti malam.
فَتَنَادَوْا مُصْبِحِيْنَۙ
21. Lalu, mereka saling memanggil pada pagi hari,
اَنِ اغْدُوْا عَلٰى حَرْثِكُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰرِمِيْنَ
22. “Pergilah pagi-pagi ke kebunmu jika kamu hendak memetik hasil.”
فَانْطَلَقُوْا وَهُمْ يَتَخَافَتُوْنَۙ
23. Mereka pun berangkat sambil berbisik-bisik,
اَنْ لَّا يَدْخُلَنَّهَا الْيَوْمَ عَلَيْكُمْ مِّسْكِيْنٌۙ
24. “Pada hari ini jangan sampai ada orang miskin yang masuk ke dalam kebunmu.”
وَّغَدَوْا عَلٰى حَرْدٍ قٰدِرِيْنَ
25. Berangkatlah mereka pada pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin). Mereka mengira mampu (melakukan hal itu).
فَلَمَّا رَاَوْهَا قَالُوْٓا اِنَّا لَضَاۤلُّوْنَۙ
26. Ketika melihat kebun itu, mereka berkata, “Sesungguhnya kita benar-benar orang sesat.
بَلْ نَحْنُ مَحْرُوْمُوْنَ
27. Bahkan, kita tidak memperoleh apa pun.”
قَالَ اَوْسَطُهُمْ اَلَمْ اَقُلْ لَّكُمْ لَوْلَا تُسَبِّحُوْنَ
28. Seorang yang paling bijak di antara mereka berkata, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)?” (848)
===848. Mensyukuri nikmat-Nya dan tidak meniatkan sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah seperti: meniatkan tidak akan memberi fakir miskin.
قَالُوْا سُبْحٰنَ رَبِّنَآ اِنَّا كُنَّا ظٰلِمِيْنَ
29. Mereka mengucapkan, “Mahasuci Tuhan kami. Sungguh, kami adalah orang-orang yang zalim.”
فَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَلَاوَمُوْنَ
30. Mereka saling berhadapan dengan saling mencela.
قَالُوْا يٰوَيْلَنَآ اِنَّا كُنَّا طٰغِيْنَ
31. Mereka berkata, “Aduh celaka kita! Sesungguhnya kita adalah orang-orang yang melampaui batas.
عَسٰى رَبُّنَآ اَنْ يُّبْدِلَنَا خَيْرًا مِّنْهَآ اِنَّآ اِلٰى رَبِّنَا رٰغِبُوْنَ
32. Mudah-mudahan Tuhan memberikan ganti kepada kita dengan yang lebih baik daripadanya. Sesungguhnya kita mengharapkan (ampunan dan kebaikan) Tuhan kita.”
كَذٰلِكَ الۡعَذَابُؕ وَلَعَذَابُ الۡاٰخِرَةِ اَكۡبَرُ ۘ لَوۡ كَانُوۡا يَعۡلَمُوۡنَ
33. Seperti itulah azab (di dunia). Sungguh, azab akhirat lebih besar sekiranya mereka mengetahui. (849)
===849. Allah menerangkan bahwa Dia menguji penduduk Mekkah dengan menganugerahi nikmat yang banyak untuk mengetahui apakah mereka bersyukur atau tidak, sebagaimana Allah telah menguji pemilik-pemilik kebun. Akhirnya pemilik kebun itu insaf dan bertobat kepada Allah. Demikian pula penduduk Mekkah yang kemudian menjadi insaf dan masuk Islam berbondong-bondong setelah penaklukkan Mekkah.
اِنَّ لِلْمُتَّقِيْنَ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِ
34. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapatkan surga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya.
اَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِيْنَ كَالْمُجْرِمِيْنَۗ
35. Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang Islam (orang yang tunduk kepada Allah) seperti orang-orang yang pendurhaka (orang kafir)?(850)
===850. Maksudnya, sama tentang balasan yang disediakan Allah untuk mereka masing-masing.
مَا لَكُمْۗ كَيْفَ تَحْكُمُوْنَۚ
36. Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil putusan?
اَمْ لَكُمْ كِتٰبٌ فِيْهِ تَدْرُسُوْنَۙ
37. Atau, apakah kamu mempunyai kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu pelajari?
اِنَّ لَكُمْ فِيْهِ لَمَا تَخَيَّرُوْنَۚ
38. Sesungguhnya di dalamnya kamu dapat memilih apa saja yang kamu sukai.
اَمْ لَكُمْ اَيْمَانٌ عَلَيْنَا بَالِغَةٌ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِۙ اِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُوْنَۚ
39. Atau, apakah kamu memperoleh (janji-janji yang diperkuat dengan) sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari Kiamat, (yakni) bahwa kamu dapat mengambil putusan (sekehendakmu)?
سَلْهُمْ اَيُّهُمْ بِذٰلِكَ زَعِيْمٌۚ
40. Tanyakanlah kepada mereka (kaum musyrik) siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap (putusan yang diambil itu).
اَمْ لَهُمْ شُرَكَاۤءُۚ فَلْيَأْتُوْا بِشُرَكَاۤىِٕهِمْ اِنْ كَانُوْا صٰدِقِيْنَ
41. Atau, apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? Kalau begitu, hendaklah mereka mendatangkan sekutu-sekutunya jika mereka orang-orang benar.
يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَّيُدْعَوْنَ اِلَى السُّجُوْدِ فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَۙ
42. (Ingatlah) pada hari ketika betis disingkapkan (851) dan mereka diseru untuk bersujud; maka mereka tidak mampu, (852)
===851. Menggambarkan keadaan orang yang sedang ketakutan yang hendak lari karena hebatnya huru-hara Hari Kiamat.
===852. Mereka diminta sujud itu adalah untuk menguji keimanan mereka, padahal mereka tidak sanggup lagi karena persendian tulang-tulang mereka telah lemah dan azab sudah mengepung mereka.
Tadabbur:
Ayat 16-33 meneruskan ayat sebelumnya terkait kaum kafir Mekkah yang menolak risalah Islam. Perumpamaan mereka persis seperti pemilik kebun yang tidak bersyukur. Setelah Allah hancurkan, mereka bertaubat. Kasus tersebut merupakan azab Allah di dunia, sedangkan azab akhirat itu jauh lebih dahsyat. Sepantasnyalah manusia mengetahui. Begitu juga penduduk Mekkah, setelah Islam Jaya, mereka baru menyadari kebenaran Islam dan masuk Islam berbondong-bondong.
Ayat 34-42 menjelaskan tidaklah sama nasib orang-orang bertakwa dengan pendosa. Orang-orang yang bertakwa meraih surga dari Allah; Tuhan Pencipta mereka. Orang-orang kafir di akhirat akan ditanya tentang konsep hidup yang mereka pelajari dan pilih menjadi sistem hidup di dunia. Mereka juga diminta mendatangkan sekutu-sekutu mereka dan bersujud pada Allah, namun tidak mampu.
Sumber: Mushaf Tadabbur
Ustd. Fathuddin Ja’far, MA Komunitas Tadabbur Al-Quran (KontaQ)
kontaq.tadabburquran@gmail.com ↭↭↭↭↭↭↭↭↭↭↭↭↭↭↭↭


